PERILAKU DALAM PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER*
Oleh : Menhard, SE.,MPd
Dosen STIE Mahaputra Riau
ABSTRACT
Behavior is an action or an activity that can be seen directly (overt behavior) or can not be seen (covert behavior) by the outsiders. In relation to the process of the computer-assisted intsruction, the students’ behavior need attention because the computer-assisted instruction would be succesfull if the students’ are actively involved in doing computer related learning activities
The aims of this research was found out the students’ behavior in asking questions to the lecturer, copying their friend’s work results, doing other activities outside the practical subject which was in progress. The data was collected through observations, interviews, and documentations. The data was analyzed by using the Spradly Qualitative Analysis Model (1980). The data processing procedures was comprised of areas, taxonomic, componential and theme analysis.
The result of research shows that the students’ behavior is influenced by the learning situation built by the lecturer, beside by the students` attitude itself. It shows the comfortable relation appeared by the lecturer, lecturer present style, correcting the students’ assignment, and seeing the student when do practical interfere the students’ behavior doing practical.
Keywords : Behavior, Students’, Lectures, Computer-assisted intsruction
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Implementasi kurikulum yang baik akan terwujud melalui proses pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan kompetensi mahasiswa melalui proses transformasi pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Untuk itu, salah satu cara yang strategis ialah agar dosen mampu merubah suasana kelas dari kelas yang berbasis pengajaran (teaching), menjadi kelas berbasis pembelajaran (learning).
Dalam upaya mengembangkan konten menjadi pengalaman dan kompetensi, mahasiswa di Akademi Akuntansi Mahaputra Riau (selanjutnya ditulis AAM Riau) perlu mengikuti penyajian materi pembelajaran berbantuan komputer yang dilaksanakan melalui teori di kelas dan praktikum di laboratorium komputer. Mengacu kepada salah satu karakteristik pembelajaran berbantuan komputer yang dikemukakan Hannafin dan Peck (1988:5), pembelajaran dilakukan dengan cara mahasiswa duduk di depan komputer dan menggunakan keyboard untuk mengirim informasi ke komputer. Selanjutnya komputer memberi informasi melalui layar monitor, sehingga mahasiswa dapat lebih aktif untuk belajar mandiri. Inti kegiatannya adalah keterlibatan (involvement) mahasiswa menjadi sangat tinggi dalam proses pembelajaran.
Berkaitan dengan proses pembelajaran berbantuan komputer, perilaku mahasiswa perlu mendapat perhatian, terutama jika dikaitkan dengan tuntutan pembelajaran berbantuan komputer yang mengharuskan keterlibatan mahasiswa yang tinggi dalam proses pembelajaran.
Hasil wawancara dalam observasi awal yang peneliti lakukan memperlihatkan beberapa fenomena perilaku mahasiswa dalam pembelajaran berbantuan komputer di AAM Riau, antara lain: mahasiswa kurang aktif untuk bertanya apabila mendapat kesulitan; walaupun mahasiswa diberikan kesempatan waktu untuk melakukan praktikum bebas (di luar jadwal), namun masih banyak tugas yang diberikan tidak dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini terlihat dari hasil pengerjaan tugas dan latihan yang diberikan kepada mahasiswa, terkadang diselesaikan dengan dengan mengopi hasil kerja temannya.
Perilaku mahasiswa, seperti : rajin masuk ke laboratorium komputer tetapi tugas tidak selesai, tidak mau bertanya, tidak serius dalam belajar sangat menarik untuk diungkapkan penyebabnya. Apalagi jika dihubungkan dengan ungkapan Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:49) yang mengingatkan bahwa penggunaan media dan teknologi akan berlangsung efektif jika direncanakan dengan baik. Hal ini mendorong peneliti untuk memahami lebih jauh dengan melakukan penelitian tentang perilaku dalam pembelajaran berbantuan komputer di laboratorium komputer AAM Riau. Pengetahuan tentang perilaku dalam pembelajaran dengan bantuan komputer akan dapat mengungkapkan banyak hal tentang perilaku mahasiswa dan dosen dalam kaitannya dengan rekomendasi para ahli pendidikan tentang pentingnya proses pembelajaran diarahkan pada upaya untuk menjadikan mahasiswa sebagai pembelajar yang mandiri (independent learning).
1.2. Fokus dan Masalah Penelitian
Pembelajaran berbantuan komputer memfasilitasi mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga mereka mampu mandiri (student-directed learning), sehingga belajar terpusat pada mahasiswa (student-centered), bukan terpusat pada perkuliahan dosen (teacher-directed teaching). Penelitian ini fokus untuk melihat bagaimana perilaku mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran berbantuan komputer yang dilaksanakan di AAM Riau yang mencakup perilaku mahasiswa bertanya kepada dosen, mengopi saja pekerjaan teman, mengerjakan materi lain diluar materi praktikum, mengungkapkan apakah faktor-faktor penyebabnya, mengkaitkannya dengan perilaku dosen dalam mengelola pembelajaran berbantuan komputer.
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Perilaku
2.1.1. Pengertian Perilaku
Martin dan Joseph (1992:3), memandang perilaku dari apa yang dikatakan atau dikerjakan seseorang, “behavior is anything that a person says or does”. Hersey dan Blanchard (1992) melihat perilaku sebagai suatu rangkaian kegiatan nyata yang dilaksanakan seseorang dan mempunyai tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Perilaku manusia menurut Notoatmodjo (2003) pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Lebih lanjut Ansyar (1989) menjelaskan bahwa dalam psikologi, tingkah laku manusia terutama dikendalikan oleh cita-cita, kepercayaan dan tingkah laku lainnya yang menciptakan makna atau arti. Makna bukan saja menggerakkan tingkah laku manusia, tetapi juga membutuhkan semua pengalamannya untuk menciptakan hidup lebih baik. Karena itu, kebutuhan utama manusia adalah untuk menciptakan makna dalam rangka mengaktualisasikan diri. Ansyar (1989:76) menyimpulkan bahwa manusia, pada hakekatnya adalah netral, makhluk pencipta makna yang pengembangan potensi dirinya untuk menjadi manusia yang baik umumnya terkungkung oleh enkapsulasi kebudayaan, fisiologis, atau psikologis, suatu kondisi yang dapat menggiringnya menciptakan makna negatif, seperti berbuat destruksi, distorsi, dan lain-lain.
2.1.2. Perilaku Mahasiswa “Bertanya”, “Mengopi Saja Pekerjaan Teman”, “Mengerjakan Pekerjaan Lain Diluar Materi Praktikum”
Perilaku mahasiswa bertanya, mengopi saja pekerjaan teman, mengerjakan pekerjaan lain diluar materi paraktikum merupakan wujud dari kesulitan mahasiswa dalam pembelajaran. Perilaku mahasiswa bertanya seharusnya merupakan sebuah jawaban untuk keluar dari permasalahan yang dialami mahasiswa dalam pembelajaran. Nurhadi, Burhan, Agus (2004:45) mengemukakan “bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh mahasiswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan”. Lebih lanjut Nurhadi, Burhan, Agus menjelaskan bahwa “mahasiswa bertanya karena ingin tahu, menguji, mengkonfirmasi, mengapersepsi, mengarahkan, menggiring, mengaktifkan skemata, men-judge, mengklarifikasi, memfokuskan, menghindari kesalahpahaman. Dapat disimpulkan bahwa bertanya merupakan sebuah perilaku yang seharusnya terjadi bagi setiap mahasiswa untuk keluar dari berbagai keadaan yang masih belum jelas dan ada dalam pemikiran mahasiswa.
Keadaan mahasiswa yang tidak dapat belajar sebagai mana mestinya, disebut kesulitan belajar (Dalyono, 1997:230). Lebih lanjut ia menguraikan faktor penyebab kesulitan belajar, yang digolongkan Dalyono menjadi faktor internal dan eksternal, sebagai berikut :
1) Faktor intern yang merupakan faktor dari dalam diri, meliputi fakor fisiologi seperti sakit, cacat baik yang tergolong ringan atau yang tetap (berat), faktor psikologis seperti intelegensi yang rendah, pelajaran yang tidak sesuai dengan bakat, kurang berminat, motivasi yang lemah, gangguan kesehatan mental dan emosional
2) Faktor eksternal, yakni faktor yang berasal dari luar. Meliputi faktor orang tua, seperti cara mendidik, hubungan mahasiswa dengan orangtua, suasana rumah, keadaan ekonomi; faktor sekolah seperti dari aspek dosen yang kurang berkualitas, hubungan dengan mahasiswa yang kurang baik, dosen yang menuntut standar pelajaran di atas kemampuan, dosen kurang memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar, metode mengajar kurang tepat; faktor alat dan media yang kurang lengkap, sarana dan prasarana tidak mendukung…..
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa kesulitan belajar mahasiswa disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri atau dari luar. Alisuf Sabri (1996) melihat kesulitan belajar dapat diamati dari berbagai bentuk. Diantaranya dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau menurunnya hasil belajar. Nilai-nilai belajar mahasiswa yang rendah dapat dijadikan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar yang dihadapi mahasiswa. Senada dengan pendapat Alisuf Sabri, Prayitno (1998) juga mengemukakan bahwa permasalahan yang dialami individu terwujud dalam tingkah lakunya.
Perilaku mahasiswa mengopi pekerjaan teman dalam menyelesaikan tugas (dalam hal ini tugas praktikum) yang diberikan, merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian tugas tersebut. Perilaku tersebut sering dikenal dengan istilah “copy paste” artinya mengopi pekerjaan teman secara utuh dan mengakui sebagai karya sendiri. Koentjaraningrat (1992) menyebutnya menyontek, dan mengartikan sebagai mentalitas yang bernafsu untuk mencapai tujuan dengan cara yang secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan berusaha dari permulaan secara langkah demi langkah.
Tujuan pemberian tugas dijelaskan oleh Moeslichatoen, R. (1999), yang menyebutkan pemberian tugas merupakan tugas atau pekerjaan yang sengaja diberikan kepada mahasiswa yang harus dilaksanakan dengan baik. Tugas diberikan untuk memberikan kesempatan kepada mereka menyelesaikan tugas didasarkan petunjuk dari dosen yang sudah dipersiapkan sehingga mahasiswa dapat menjalani secara nyata dan melaksanakan dari awal hingga tuntas. Terlihat jelas bahwa tugas yang diberikan dosen harus dilaksanakan mahasiswa bersangkutan dengan baik agar ia memperoleh pengalaman belajar dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Lebih jauh Zainuddin (2001 : 2) menguraikan bahwa praktikum merupakan strategi pembelajaran atau bentuk pengajaran yang digunakan untuk membelajarkan secara bersama-sama kemampuan psikomotorik (keterampilan), pengertian (pengetahuan), dan afektif (sikap) dengan menggunakan sarana laboratorium. “Praktikum” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bagian dari pengajaran yang bertujuan agar mahasiswa mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksanakan di keadaan yang nyata apa yang diperoleh dalam teori.
Perilaku mahasiswa dalam proses pembelajaran berbantuan komputer, menurut Hannafin dan Peck (1988:5) terlihat dari tipe/prosedur pembelajaran: 1) mahasiswa duduk di depan komputer, melalui keyboard yang ada di komputer mereka mengirim informasi kepada komputer dan layar monitor adalah sarana informasi komputer kepada mahasiswa. Informasi yang disajikan kepada mahasiswa dalam bentuk teks dan grafik yang ditampilkan menarik di layar monitor; 2) kecepatan penampilan materi berikutnya umumnya tergantung kepada mahasiswa; 3) setelah semua materi disajikan, pertanyaan atau tugas muncul dilayar monitor, mahasiswa menjawab pertanyaan/mengerjakan tugas melalui keyboard. Hannafin dan Peck (1988) melanjutkan apabila mahasiswa menjawab/mengerjakan dengan benar, maka dapat mengerjakan soal/tugas baru. Pelaksanaan pembelajaran berbantuan komputer ini, secara nyata menuntut kemampuan individu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Artinya, tugas-tugas praktikum yang diberikan dosen harus dapat diselesaikan dengan baik berdasarkan kemampuan perseorangan.
2.1.3. Perilaku Dosen Dalam Proses Pembelajaran Berbantuan Komputer
Prosedur pelaksanaan kegiatan belajar/kelas meliputi bagaimana pola pembelajaran dilaksanakan. Miarso (2004:534) melihat secara konseptual beberapa bentuk pengelolaan dalam pola berikut : 1) pola klasikal, dosen-mahasiswa saja; 2) pola klasikal media, dosen-mahasiswa dengan media pembelajaran tertentu; 3) pola interaksi perorangan; 4) pola mandiri; 5 pola saling ajar; dan 6) pola media interaktif (Computer-Assisted Instruction, Computer-Based Learning, dan lain-lain). Pola pembelajaran yang dikemukakan ini menggambarkan intensitas aktifitas dosen dan mahasiswa dalam taraf berbeda. Pada pola klasikal, dosen cenderung mengajar, sehingga mahasiswa bersifat pasif mendengarkan sajian konten. Sedangkan pola media interaktif, misalnya pembelajaran berbantuan komputer, menuntun mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dan mandiri.
Miarso (2004:536) mengungkapkan bahwa pembelajaran efektif adalah yang menghasilkan pembelajaran yang bermanfaat dan bertujuan bagi mahasiswa melalui pemakaian prosedur yang tepat. Lebih lanjut Miarso menjelaskan hal tersebut mengandung dua indikator penting, yaitu terjadinya belajar pada mahasiswa dan apa yang dilakukan dosen.
Perilaku dosen dalam peristiwa pembelajaran, berupa tahapan dalam melaksanakan proses pembelajaran termasuk usaha yang perlu dilakukan dalam tiap tahap, agar proses itu berhasil, secara garis besar terlihat dalam langkah-langkah berikut : persiapan (memikat perhatian, membangkitkan minat, memberitahukan tujuan); penyajian (merangsang ingatan atas pelajaran sebelumnya, menyajikan rangsangan baru, membimbing pemahaman, melatih penguasaan, memberikan umpan balik); dan pemantapan (menilai penguasaan, memberikan umpan balik), Miarso (2004:533). Penjelasan Miarso ini menggambarkan bahwa diperlukan berbagai upaya yang dilakukan oleh dosen agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, mulai dari persiapan pembelajaran, penyajian, dan pemantapan.
Usman (2005:74-80) menguraikan tentang keterampilan dasar mengajar yang juga dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan berdampak terhadap partisipasi mahasiswa, diantaranya keterampilan bertanya. Usman mengatakan bertanya memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran. Pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat, akan memberikan dampak positif terhadap mahasiswa, seperti meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mahasiswa, mengembangkan pola dan cara belajar aktif mahasiswa sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya. Terlihat di sini bahwa bertanya merupakan kemampuan yang harus dimiliki dosen, agar ia dapat meraih simpati mahasiswa agar termotivasi untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Agar mahasiswa aktif maka dosen perlu mengkondisikan suasana pembelajaran yang kondusif. Usman (2005:76) mengemukakan kehangatan dan keantusiasan yang ditunjukkan dosen akan mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Usman melanjutkan bahwa sikap, dan cara dosen termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan adanya kehangatan dan keantusiasannya. Dengan perilaku dosen yang menggambarkan kehangatan dan keantusiasannya, maka mahasiswa akan merasa dekat sehingga mereka merasa nyaman dalam belajar.
Perilaku aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari perilaku dosen dalam perencanaan media pembelajaran. Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:49) mensinyalir penggunaan media dan teknologi akan berlangsung efektif jika direncanakan dengan baik. Secara rinci Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:45-77) menguraikan model Assure, dan disimpulkan sebagai berikut : analize learners adalah merupakan kegiatan dosen melihat karakter umum mahasiswa (seperti : umur, pekerjaan, budaya, sosial ekonomi), kompetensi awal (melalui bertanya atau mengadakan tes), dan gaya belajar (watak psikologi yang menentukan bagaimana individu menyadari dan merespon stimulus yang berbeda); states objectives, adalah penentuan tujuan yang berisi pernyataan terhadap apa yang akan dihasilkan atau diharapkan dari pembelajaran; select method, media, and matherial dilakukan melalui tiga tahap, yaitu : menentukan metode yang tepat dalam penyampaian pembelajaran, memilih format media, memilih, memodifikasi atau merancang materi khusus; utilize media and matherials adalah kegiatan meninjau kembali materi, mempersiapkan materi sebaik mungkin, mempersiapkan lingkungan belajar, mempersiapkan mahasiswa, memberikan pengalaman pembelajaran; require learner participation adalah kegiatan dosen yang dilaksanakan untuk memungkinkan terjadinya umpan balik dan lain lain; evaluate and revise dilakukan dengan menilai pencapaian mahasiswa dan mengevaluasi metode dan media, untuk disempurnakan pada pembelajaran selanjutnya.
Pembelajaran berbantuan komputer memiliki karakteristik yang hampir sama dengan pembelajaran modul. Dengan mengadaptasi peran dosen dalam pembelajaran modul yang dikemukakan Suryosubroto (1983:23), maka untuk melengkapi peran dosen dalam pelaksanaan pembelajaran berbantuan komputer adalah sebagai berikut:
Peran Dosen Dalam Pembelajaran Berbantuan Komputer
Waktu
|
Peran Dosen
|
|
Pada saat akan dimulainya Pembelajaran
|
Memastikan semua peralatan yang akan digunakan cukup tersedia, dan dalam kondisi baik
|
|
Pada saat berlangsungnya pembelajaran
|
Menegaskan kepada mahasiswa, hal-hal khusus yang terdapat dalam materi
Menegaskan kepada mahasiswa untuk tidak tergesa
Menegaskan kepada mahasiswa, bahwa mereka boleh bertanya kepada Dosen tentang hal belum jelas
Mengadakan pemantauan keliling, untuk memastikan :
- seberapa jauh mahasiswa memahami petunjuk
- seberapa jauh mereka mampu mengerjakan tugas
- kesulitan lain yang dihadapi mahasiswa
Dosen boleh menghentikan kegiatan kelas, dan secara khusus menjelaskan hal yang sangat sulit, bila ternyata semua mahasiswa menghadapi kesulitan yang sama
|
|
Pada saat mahasiswa selesai membaca dan mempelajari materi
|
Dosen memberikan/menampilkan lembaran tugas
|
|
Pada saat mahasiswa telah menyelesaikan tugas
|
Bagi mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan benar, dosen mempersilahkan mahasiswa membuka/melanjutkan ke materi selanjutnya
|
Diadaptasi dari : Suryosubroto (1983:25-30)
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran dosen dalam proses pembelajaran berbantuan komputer sangat menentukan efektifvitas pembelajaran. Perilaku dosen dalam mengelola kelas, seperti mempersiapkan lingkungan belajar, menyajikan materi, memantapkan penguasaan mahasiswa terhadap materi yang disajikan akan mewarnai kesempatan pembelajaran yang diperoleh mahasiswa,. Artinya perilaku dosen diharapkan dapat memfasilitasi terjadinya suasana yang kondusif, sehingga pembelajaran dapat berlangsung partisipatif, interaktif, dan dialogis.
2.2. Pembelajaran Berbantuan Komputer
Cronbach mengemukakan ”learning is shown by a change in behavior as result of experience” (dalam Suryabrata 2002:231). Pandangan Cronbach menekankan pentingnya pengalaman yang diperoleh dalam belajar untuk merubah dan membentuk perilaku yang relatif permanen. Gagne melihat belajar sebagai perubahan berlandaskan usaha yang sungguh-sungguh, dilakukan dalam waktu tertentu dan bukan karena proses pertumbuhan (Munandir, 1985:3). Kesungguhan berarti bahwa belajar merupakan usaha yang disengaja, tidak terjadi secara kebetulan saja.
Berkaitan dengan penggunaan komputer sebagai media pembelajaran Fred & Henry (dalam Sudjarwo, 1988), memandang komputer sebagai alat yang dapat menerima informasi, diterapkan untuk prosedur pemrosesan dan menerima hasil informasi baru dalam bentuk yang mudah digunakan oleh pemakai. Cotton (1991) memerinci berbagai istilah yang menyangkut penggunaan komputer sebagai media pembelajaran ditemukan dewasa ini, seperti : Computer Based Education (CBE), Computer Based Instruction (CBI), Computer Assisted Instruction (CAI), Computer Managed Instruction (CMI), dan Computer Enriched Instruction (CEI).
Berbeda dengan Cotton, Heinich, et al, (2005:110) mengelompokkan pemakaian komputer dalam bidang pendidikan menjadi dua bagian, yaitu Computer- Managed Instruction (CMI), dan Computer-Assisted Instruction (CAI). Heinich menjelaskan “CMI membantu dosen dan mahasiswa dalam mengolah setiap informasi tentang mahasiswa dan petunjuk pembelajaran. Itu berarti bahwa komputer dapat mengorganisasi dan menyimpan informasi berkaitan dengan mahasiswa dan materi pembelajaran yang relevan, yang dengan mudah dapat dipanggil Mahasiswa dapat mengambil materi ujian dalam komputer atau memasukkkan informasi ke dalam folder tersendiri. Lebih jauh lagi komputer dapat menganalisa kebutuhan pembelajaran dari mahasiswa dan menyampaikan secara optimal setiap bagian-bagian dari pembelajaran untuk mahasiswa”. Definisi Heinich ini memperlihatkan banyak sekali fungsi komputer dalam membantu pembelajaran.
III. TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Perilaku dikonsepsikan sebagai perbuatan, kelakuan, cara menjalankan atau berbuat yang dilaksanakan dan mempunyai tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sukmadinata (2005:44-53), menguraikan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perilaku individu, baik bersumber dari dalam dirinya (faktor internal) atau yang berasal dari luar dirinya (eksternal). Faktor internal merupakan segala sifat dan kecakapan yang dimiliki atau dikuasai individu dalam perkembangannya, di peroleh dari hasil keturunan atau karena interaksi keturuan dengan lingkungan. Faktor eksternal merupakan segala hal yang diterima individu dari lingkungannya. Dosen dalam hal ini, merupakan lingkungan langsung dari mahasiswa dalam belajar. Tentu saja perilaku dosen dalam melaksanakan pembelajaran akan berpengaruh pada perilaku mahasiswa dalam belajar.
Perilaku mahasiswa dalam pembelajaran berbantuan komputer di AAM Riau dalam hal ini perilaku mahasiswa bertanya, mengopi saja pekerjaan teman dan mengerjakan pekerjaan lain selain materi yang dibahas banyak ditemukan. Untuk itu, perilaku mahasiswa dan kaitannya dengan perilaku dosen dalam mengelola pembelajaran tersebut dibahas di bawah ini.
3.1. Perilaku Mahasiswa Bertanya
Berdasarkan temuan-temuan penelitian ini, perilaku mahasiswa bertanya dapat dikelompokkan kepada: mahasiswa yang selalu bertanya apabila tidak mengerti atau mengalami kendala dalam pembelajaran, dan mahasiswa yang tidak selalu bertanya apabila ia mengalami kendala dalam pembelajaran.
3.1.1. Perilaku Mahasiswa ”Selalu Bertanya”
Berdasarkan temuan-temuan perilaku mahasiswa yang selalu bertanya, dapat disimpulkan alasan-alasan yang mendorong terjadinya perilaku selalu bertanya tersebut. Bahwa jumlah mahasiswa yang selalu bertanya adalah 11 orang dari 40 orang mahasiswa yang diwawancarai, atau sebahagian kecil adalah mahasiswa yang selalu bertanya. Jika ditelusuri lebih jauh, mahasiswa yang selalu bertanya hanya terjadi pada dosen tertentu, seperti terhadap D1 pada mata kuliah Komputer 1, 2, 3; D3 pada mata kuliah Komputer 5 dan 6. Terhadap D2, D4, D5, D6 tidak ditemukan mahasiswa yang selalu bertanya apabila mengalami kesulitan. Dengan perkataan lain bahwa mahasiswa yang selalu bertanya hanya kepada dua orang dosen saja, yaitu D1 dan D3, sementara kepada empat orang dosen lainnya tidak ditemukan mahasiswa yang selalu bertanya apabila mengalami kesulitan dalam belajar. Terlihat bahwa sebahagian besar dosen belum dapat memenangkan hati mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh para mahasiswa yang selalu bertanya, terlihat bahwa perilaku itu berasal dari dalam diri mahasiswa, juga berasal dari pengaruh yang ditimbulkan oleh dosen. Informasi yang diungkapkan oleh mahasiswa ”agar tidak kebingungan, benar-benar ingin tahu, kalau tidak ditanyakan nanti saya tidak bisa”, menunjukkan adanya dorongan perilaku dari dalam diri informan untuk “bisa”. Ansyar (1989) menjelaskan bahwa dalam psikologi, tingkah laku manusia terutama dikendalikan oleh cita-cita, kepercayaan dan tingkah laku lainnya yang menciptakan makna atau arti. Terlihat di sini bahwa dorongan selalu bertanya itu dikendalikan oleh cita-cita untuk bisa, sehingga informan memutuskan untuk senantiasa bertanya jika mengalami hambatan dalam pembelajaran guna mewujudkan cita-citanya tersebut.
Selain dipengaruhi oleh dorongan dari dalam diri mahasiswa, perilaku selalu bertanya juga terlihat dipengaruhi pula oleh lingkungan pembelajaran yang diciptakan dosen. Temuan informasi berupa jawaban dari para mahasiswa seperti : “rugi kalau tidak ditanyakan, apalagi dosen baik sekali; tidak malu, mahasiswa senang, dosen juga enak mengajarnya; teman-teman banyak juga yang bertanya, malah malu kalau tidak bertanya; dosen kan akrab dengan mahasiswa, jadi tidak takut kalau bertanya, menggambarkan keberhasilan dosen dalam membangun suasana pembelajaran yang positif dalam hal ini require learner participation. Mengutip apa yang dikemukakan Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:45-77) tentang model Assure, berkaitan dengan perilaku mahasiswa yang selalu bertanya tersebut dimungkinkan salah satunya oleh require learner participation yakni kegiatan dosen yang dilaksanakan untuk memungkinkan terjadinya umpan balik oleh dosen atas hasil interaksi yang dilakukan dalam pembelajaran. Artinya perilaku dosen berhasil menciptakan proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
3.1.2. Perilaku Mahasiswa yang ”Tidak Selalu Bertanya”
Hasil wawancara memperlihatkan bahwa jumlah mahasiswa yang tidak selalu bertanya adalah 29 orang dari 40 orang. Artinya sebagian besar mahasiswa tidak bertanya kepada dosen jika mendapat kesulitan dalam pembelajaran Penyebabnya diantaranya karena sikap pribadi mahasiswa, dan lingkungan atu suasana pembelajara yang membuat mahasiswa tidak mau bertanya pada dosen tertentu.
Perilaku tidak selalu bertanya dengan alasan lebih senang mencoba sendiri dan bahkan mencari buku referensi sebenarnya sangat sesuai dengan prinsip pembelajaran berbantuan komputer yang mengharuskan mahasiswa aktif. Hannafin dan Peck (1988:9) mengungkapkan ”pembelajaran berbantuan komputer berlangsung sesuai dengan kecepatan individu, terjadinya peningkatan interaksi antara mahasiswa dengan komputer yang menuntut peran aktif mahasiswa”. Walaupun sangat dituntut peran aktif mahasiswa, dan mahasiswa aktif mencoba sendiri bahkan mencari buku referensi, bukan berarti peran dosen menjadi hilang sama sekali. Suryosubroto (1983:25-30) menjelaskan bahwa peran dosen dalam hal ini antara lain: ”Menegaskan kepada mahasiswa, bahwa mereka boleh bertanya kepada Dosen tentang hal belum jelas; Mengadakan pemantauan keliling, untuk memastikan : seberapa jauh mahasiswa memahami petunjuk; seberapa jauh mereka mampu mengejakan tugas; kesulitan lain yang dihadapi mahasiswa; bahkan Dosen boleh menghentikan kegiatan kelas, dan secara khusus menjelaskan hal yang sangat sulit, bila ternyata semua mahasiswa menghadapi kesulitan yang sama”.
Dengan demikian terlihat bahwa dosen dituntut memantau pelaksanaan praktikum dengan berkeliling diantara mahasiswa, sehingga mahasiswa yang tengah mengerjakan praktikum dan terlihat mengalami kesulitan dapat segera di beri arahan agar tidak mengalami kendala dan kebuntuan yang berlarut-larut karena mahasiswa enggan bertanya.
Alasan lain yang dikemukakan oleh mahasiswa yang tidak selalu bertanya apabila mengalami kesulitan adalah : takut salah, malu/gengsi, terlalu banyak yang ingin saya tanyakan, mengandalkan kemampuan teman untuk tempat bertanya, bertanya kepada teman malah lebih santai, menunggu teman bertanya, bertanya kepada teman sambil melihat hasil pekerjaan teman. Artinya mahasiswa kurang memiliki kepercayaan diri untuk bertanya langsung kepada beberapa dosen. Untuk bertanya mereka dibebani rasa malu sehingga lebih suka mengandalkan bantuan teman, karena mereka merasa jika bertanya kepada teman lebih santai. Dapat disimpulkan bahwa ada mahasiswa sungkan, bahkan takut bertanya, sehingga menjadi tidak berani bertanya..
Alasan mahasiswa tidak selalu bertanya yang dipengaruhi perilaku mengajar dosen seperti diungkapkan mahasiswa, antara lain : ”kadang kalau kita bengong dosen yang bertanya dan mengerjakan langsung; menunggu teman, sebab kalau teman bertanya langsung dibantu kerjakan oleh dosen dan tinggal mengikut atau mencontoh teman saja”. Perilaku dosen yang langsung mengerjakan sendiri permasalahan yang dihadapi mahasiswa pada komputernya terlihat memberikan efek negatif terhadap minat bertanya mahasiswa, Padahal pembelajaran berbantuan komputer harus dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam membangun pengalaman belajar mahasiswa sebagai subjek pembelajaran daripada sebagai objek perkuliahan dosen.
Untuk itu, Hannafin dan Peck (1988:5) mengemukakan tipe/prosedur pembelajaran berbantuan komputer antara lain : mahasiswa duduk didepan komputer, melalui keyboard yang ada di komputer mereka mengirim informasi kepada komputer dan layar monitor adalah sarana informasi komputer kepada mahasiswa. Dengan demikian maka mahasiswa dengan bimbingan dosen dapat menyelesaikan tugasnya di komputer dengan baik, tanpa dikerjakan langsung oleh dosen. Dosen yang terlalu jauh membantu mahasiswa, ternyata menghambat mahasiswa untuk mengerjakan langsung, dan ternyata mereka memilih tidak bertanya dan membiarkan teman bertanya untuk kemudian mencobakan/mencontoh apa yang dilakukan dosen dalam menjawab pertanyaan teman mahasiswa tersebut.
Mahasiswa juga mengemukakan mood bertanya dipengaruhi gaya dosen mengajar, bahkan untuk bertanya kadang melihat dosennya, Kalau memungkinkan barulah bertanya. Terlihat bahwa dosen memiliki sikap dosen kurang berkenan dihati mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran, menjadi alasan mahasiswa tidak berkenan untuk bertanya. Model Assure yang di gagas oleh Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:45-77) dapat dijadikan acuan yang baik untuk hal ini. Dosen diharapkan memahami dengan baik kondisi mahasiswa. Salah satunya adalah dosen diharapkan mengembangkan lingkungan belajar yang kondusif bagi terciptanya pembelajaran yang dialogis dan partisipatif.
Makna yang terkandung dalam mempersiapkan lingkungan belajar bukan hanya sebatas lingkungan saja, tetapi dosen sebagai fasilitator harus mampu menampilkan kesan bahwa dosen siap, baik dari segi materi ajar maupun performa dalam memfasilitasi pembelajaran.
Sikap mahasiswa yang tidak selalu bertanya juga dipengaruhi oleh apa yang diperbuat dosen terhadap mahasiswa. Alasan mahasiswa yang banyak dikemukakan mereka adalah sebagai berikut : “yang di lakukan dalam praktek adalah persis seperti yang dikatakan dosen, dan hanya menunggu perintah dan melihat hasil seperti yang diceritakan Dosen; tidak bertanya karena “dibimbing langsung oleh dosen, maksudnya pertanyaan yang ada dan mungkin timbul terlebih dahulu sudah dibahas dosen dan terjawab dalam praktek”.
Terlihat dari kutipan wawanwacara dengan mahasiswa bahwa iklim proses pembelajaran khususnya praktikum bergantung sepenuhnya pada instruksi dosen. Mahasiswa menunggu perintah, dan disisipi pertanyaan dan jawaban langsung dari dosen. Walaupun pembelajaran menggunakan komputer, namun instruksi muncul dari dosen, sehingga kendali pembelajaran tidak lagi bergantung kepada kecepatan mahasiswa dalam belajar, tetapi dikendalikan oleh dosen. Hal ini tidak sejalan dengan proses pembelajaran berbantuan komputer, menurut Hannafin dan Peck (1988:5) bahwa “kecepatan penampilan materi berikutnya umumnya tergantung kepada mahasiswa”. Karena kecepatan belajar ditentukan oleh dosen, maka kesempatan mahasiswa untuk menganalisa lebih jauh menjadi terhambat oleh dominasi dosen, sehingga pertanyaan yang mungkin muncul tidak jadi tersampaikan, atau memang sudah terjawab dari pertanyaan yang telah terlebih dahulu dimunculkan dosen dalam melaksanakan pembelajaran
3.2. Perilaku Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Tugas
Perilaku mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dari dosen dikelompokkan menjadi : perilaku mahasiswa mengerjakan sendiri tugas dari dosen; dan perilaku mahasiswa mengopi pekerjaan teman dalam penyelesaian tugas.
3.2.1. Perilaku Mahasiswa ”Mengerjakan Sendiri Tugas Dari Dosen”
Hasil wawancara memperlihatkan bahwa 15 orang dari 40 orang mahasiswa yang diwawancarai mengerjakan sendiri tugas yang diberikan dosen. Mahasiswa mengerjakan sendiri tugas yang diberikan oleh dosen didorong oleh berbagai alasan, diantaranya : ”berusaha sebisanya; dicoba saja dulu kalau salah diperbaiki lagi; ia ingin bisa; ia ingin melihat hasil kemampuan pribadi”. Jawaban yang dikemukakan mahasiswa tersebut memperlihatkan keinginan mereka yang positif terhadap pembelajaran yang sedang dijalani. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang Cotton (1991). Computer- Assisted Instruction (CAI), menurut Cotton mengarahkan kepada sikap positif terhadap isi pembelajaran, kualitas pembelajaran, dan sekolah secara umum, melalui kegiatan belajar mahasiwa secara mandiri. Dengan demikian terlihat bahwa pembelajaran yang dilakukan harus berkontribusi pada pengembangan sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran sehingga menumbuhkan sikap mau belajar mandiri (student directed learning).
Jawaban yang dikemukakan mahasiswa juga memperlihatkan keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Untuk menjelaskan keinginan mahasiswa mengerjakan sendiri tugas dari dosen dalam rangka mengaktualisasikan diri, dapat dikutip pernyataan Ansyar (1989) yang menjelaskan “bahwa kebutuhan utama manusia adalah untuk menciptakan makna dalam rangka mengaktualisasikan diri”. Artinya perilaku mahasiswa tersebut didorong oleh keinginan internal mahasiswa untuk memahami materi yang diajarkan. Di samping itu juga merupakan sarana untuk dapat memperlihatkan kemampuan diri mahasiswa (personal skills) sebagai hasil dari pembelajaran yang sudah dijalani mereka.
3.2.2. Perilaku Mahasiswa ”Mengopi Pekerjaan Teman” Dalam Menyelesaikan Tugas Dari Dosen
Perilaku mahasiswa mengopi saja pekerjaan teman sebagai upaya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen, banyak ditemukan. Jika dilihat dari jumlah mahasiswa yang diwawancarai, sebahagian besar menyatakan pernah mengopi pekerjaan teman dalam penyelesaian tugas. Alasan yang dikemukakan seperti : ”terdesak karena kebetulan tugas lain juga harus dikerjakan, daripada tidak mengumpulkan dan ketinggalan; sudah tidak mampu lagi, tugas dan mata kuliahnya terlalu susah; pernah juga mengopi, tapi tidak seluruhnya; mengopi pekerjaan teman sebagai bahan referensi; kurang bisa mengatur waktu, sehingga akhirnya tidak sempat mengerjakan; jawaban yang diminta dosen sama bentuknya; kecendrungan ikutan teman; penjelasan dari dosen sangat minim”.
Dari berbagai alasan yang dikemukakan mahasiswa di atas, terlihat secara garis besar perilaku mahasiswa mengopi pekerjaan teman tersebut secara personal didorong oleh ketidakmampuan mahasiswa mengatur waktu, dan dipengaruhi perilaku dosen dalam melaksanakan pembelajaran.
Mahasiswa terlihat kurang mampu mengatur waktu dan memanfaatkan fasilitas dengan baik. Rasio komputer yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran atau dalam membuat tugas adalah 3:1. Dengan demikian 1 unit komputer untuk melayani 3 orang mahasiswa. Seharusnya dengan jumlah komputer yang tersedia dalam jumlah cukup tersebut tidak membuat mahasiswa mengalami kendala dalam penyelesaian tugas. Berdasarkan wawancara yang dilakukan juga terlihat mahasiswa tidak hanya semata-mata mengerjakan tugas di labor komputer, tetapi juga dibarengi dengan kegiatan lain, misalnya chatting dan lain-lain. Perilaku ini membuat mahasiswa menjadi lupa mengerjakan tugas yang seharusnya lebih diutamakan pengerjaannya.
Perilaku mahasiswa mengopi pekerjaan teman secara tidak langsung juga dimungkinkan melalui pemberian tugas yang membutuhkan jawaban sama, sehingga mahasiswa dapat mengopi pekerjaan temannya untuk diserahkan dan diakui sebagai hasil kerjanya. Di samping itu, hasil wawancara dengan dosen juga mengungkapkan kemungkinan itu sangat bisa terjadi, mengingat dosen yang diwawancarai tidak memeriksa keabsahan hasil kerja mahasiswa.
3.3. Perilaku Mahasiswa Melaksanakan Materi Praktikum
Perilaku mahasiswa melaksanakan materi praktikum dapat dikelompokkan kepada: perilaku mahasiswa yang hanya mengerjakan materi praktikum, dan perilaku mahasiswa yang mengerjakan materi lain di luar materi praktikum.
3.3.1. Perilaku Mahasiswa ”Hanya Mengerjakan Materi Praktikum”
Sebagian mahasiswa yang diwawancarai hanya mengerjakan materi praktikum sewaktu jam praktikum. Sedangkan hampir separuh mahasiswa mengerjakan hal lain di luar materi yang dipelajari pada saat itu. Mahasiswa hanya mengerjakan materi praktikum tanpa mengerjakan hal-hal lain di luar materi praktikum memang seharusnya demikian. Artinya mahasiswa memang melaksanakan pembelajaran sesuai materi ajar yang telah diprogramkan. Adanya keinginan yang kuat untuk belajar tercermin dari alasan yang dikemukakan mahasiswa ”Saya konsentrasi untuk belajar sesuai mata kuliah saja”.
Alasan lain yang dikemukakan adalah : ”tidak pernah, tidak sempat mengerjakan pekerjaan di luar materi praktikum; mahasiswa selalu diawasi”. Terlihat bahwa materi praktikum yang diberikan oleh dosen sudah direncanakan dengan baik, sehingga mahasiswa asyik mengerjakan materi praktikum. Disamping itu pengawasan yang dilaksanakan oleh dosen juga mengakibatkan mahasiswa tidak mengerjakan pekerjaan lain. Suryosubroto (1983:25-30) menyebutkan tugas dosen adalah untuk melakukan pemantauan keliling, salah satunya untuk ”memastikan seberapa jauh mereka mampu mengerjakan tugas”. Melalui pemantauan keliling, dosen juga secara tidak langsung mengkondisikan mahasiswa hanya mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.
3.3.2. Perilaku Mahasiswa ”Mengerjakan Pekerjaan di Luar Materi Praktikum”
Hampir separuh jumlah mahasiswa mengakui mengerjakan pekerjaan lain di luar materi praktikum ketika mereka melaksanakan praktek. Alasan yang dikemukakan adalah : ”iseng aja, nyari inspirasi; tidak ingin jenuh, makanya cari variasi lain dalam belajar; Sekadar cek e-mail., chatting; kalau membalas e-mail waktu praktikum jadi terasa kurang, banyak e-mail yang harus di balas; dosen memantau dari kejauahan, dipantau cuma sekali-sekali saja dari tempat duduk; materi praktikum sudah selesai dikerjakan, daripada menggangu teman..
Alasan yang dikemukakan tersebut menggambarkan mahasiswa kurang fokus dalam pembelajaran. Adanya keluhan untuk mengatasi kejenuhan, bahkan sempat mengecek e-mail dan chatting memperlihatkan mahasiswa tidak melaksanakan praktikum dengan serius. Dan jika kita menelusuri lebih jauh dosen sebagai fasilitator pembelajaran yang dihubungkan dengan gagasan Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:45-77) tentang Model Assure sebagai panduan prosedural dalam pembelajaran berbantuan komputer, terlihat bahwa dosen belum berhasil melaksanakan select method, media, and matherial dengan tepat. Hal ini terlihat dari ketidakseriusan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran dibuktikan dengan adanya rasa jenuh. Juga memperlihatkan dosen belum baik dalam utilize media and matherials, khususnya mempersiapkan materi sebaik mungkin; mempersiapkan lingkungan belajar; dan mempersiapkan mahasiswa untuk belajar. Mahasiswa juga kurang diajak berpartisipasi aktif. Keadaan ini juga berhubungan dengan sikap dosen yang dijadikan alasan oleh mahasiswa. Dosen digambarkan oleh mahasiswa “memantau dari kejauahan, atau dipantau cuma sekali-sekali saja dari tempat duduk. Hal ini tentu tidak sesuai dengan perilaku dosen yang diharapkan Suryosubroto (1983:25-30) yaitu ”mengadakan pemantauan keliling” untuk memonitor hasil kerja mahasiswa.
Hal lain yang dikemukakan mahasiswa adalah : ”materi praktikum sudah selesai dikerjakan, daripada menggangu teman”. Terlihat di sini bahwa dosen belum mengatur waktu praktikum dengan baik, sehingga mahasiswa kelebihan waktu dalam melaksanakan praktikum.
3.4. Perilaku Dosen Dalam Mengelola Pembelajaran
Perilaku dosen dalam pembelajaran berkaitan dengan perilaku bertanya mahasiswa, mengerjakan tugas, dan melaksanakan praktikum dapat disimpulkan beberapa perilaku dosen, yaitu : bertanya dan memberikan kesempatan bertanya kepada mahasiswa yang disertai perilaku membangun jalinan komunikasi dengan mahasiswa, mengerjakan sendiri kesulitan mahasiswa dan mendominasi pembelajaran; mengevalusi pembuatan tugas mahasiswa; mengawasi pekerjaan mahasiswa pada waktu praktikum, dan merencanakan jam praktikum dengan baik.
- 1. Perilaku Dosen Bertanya Dan Memberikan Kesempatan Mahasiswa Bertanya
Seluruh dosen bertanya terhadap kesulitan yang mungkin dialami mahasiswa di samping memberikan kesempatan bertanya bagi mahasiswa. Ternyata tidak semua mahasiswa memanfaatkan kesempatan yang diberikan dosen tersebut. Peran dosen sebagaimana di uraikan oleh Suryosubroto (1983:25-30) salah satunya adalah ”menegaskan kepada mahasiswa, bahwa mereka boleh bertanya kepada dosen tentang hal belum jelas”, sehingga mahasiswa tidak harus merasa sungkan atau ragu untuk bertanya apabila mendapat kesulitan dalam pembelajaran.
Usman (2005:74-80) mengatakan bertanya memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran. Pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat, akan memberikan dampak positif terhadap mahasiswa, seperti meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mahasiswa, mengembangkan pola dan cara belajar aktif mahasiswa sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya. Jika dihubungkan dengan perilaku mahasiswa bertanya terlihat bahwa pemberian kesempatan bertanya saja tidak cukup untuk mendorong mahasiswa bertanya. Pemberian kesempatan bertanya harus diiringi upaya lain dari dosen yakni menciptakan suasana pembelajaran yang memenangkan hati mahasiswa sehingga mahasiswa merasa nyaman untuk bertanya, Miarso (2004:533) menyebutnya sebagai usaha dosen dalam memikat perhatian, membangkitkan minat mahasiswa. Kebenaran ungkapan Miarso di atas terlihat berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan, bahwa D1 yang membangun suasana yang kondusif bagi mahasiswa berhasil menarik minat mahasiswa untuk bertanya jika mereka mengalami kesulitan dalam pembelajaran.
Perilaku dosen mengerjakan langsung kesulitan yang dialami mahasiswa, dan dosen mendominasi pembelajaran secara langsung mengurangi keterlibatan mahasiswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Berkaitan dengan hal ini, Squires, et.al (1984) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang efektif akan tergantung kepada tiga hal : 1) keterlibatan (involvement) mahasiswa dalam proses pembelajaran; 2) jumlah konten kurikulum untuk dipelajari mahasiswa (coverage); dan 3) tingkat keberhasilan (success) mereka menyelesaikan semua tugas akademik tiap hari (dalam Ansyar, 2006:1). Terlihat bahwa perilaku dosen yang kurang memfasilitasi agar mahasiswa terlibat langsung mempraktekkan materi yang dibahas karena dosen mengerjakan langsung kesulitan mahasiswa, sehingga tidak bisa dilihat tingkat keberhasilan penyelesaian tugas mahasiswa.
Berkaitan dengan perilaku dosen yang sambil menulis di papan tulis (terlalu sering membelakangi mahasiswa) dalam mengajar, Usman (2005:76) menjelaskan bahwa kehangatan dan keantusiasan yang ditunjukkan dosen akan mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Usman melanjutkan bahwa sikap, dan cara dosen termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan adanya kehangatan dan keantusiasannya. Penjelasan Usman ini memperlihatkan bahwa perilaku dosen yang terlalu lama dan sering membelakangi mahasiswa sewaktu mengajar kurang menampakkan kehangatan hubungan dengan mahasiswa, dan ini berdampak terhadap partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran.
- 2. Perilaku Dosen Dalam Melaksanakan Evaluasi Tugas Mahasiswa
Hampir seluruh dosen memberikan tugas kepada mahasiswa, namun dosen terlihat belum melaksanakan evaluasi terhadap tugas yang diberikan secara penuh. Dosen hanya melihat kepada produk tugas yang diserahkan mahasiswa tanpa melihat keabsahan tugas tersebut. Isjoni (2003:4) memandang evaluasi atau penilaian, ialah penafsiran penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan mahasiswa kearah tujuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum. Tardif dalam Syah (2005:141) menambahkan evaluasi merupakan proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai mahasiswa sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Evaluasi yang dilakukan hanya dengan melihat hasil yang diserahkan mahasiswa untuk diberi nilai, belum dapat menggambarkan prestasi mahasiswa sesungguhnya, karena tugas yang diserahkan mahasiswa untuk diberi nilai tersebut berdasarkan temuan di lapangan bukan sepenuhnya merupakan hasil yang dibuat atau dikerjakan mahasiswa tersebut.
Berdasarkan Model Assure yang dikemukakan Heinich, Molenda, Russel, dan Smaldino (2005:45-77) terlihat dosen belum maksimal melaksanakan evaluate, karena tugas yang diberikan dalam rangka mengevaluasi pencapaian mahasiswa ternyata dengan mudah dapat diselesaikan dengan cara mengopi, dan terhadap kejadian tersebut dosen belum mengadakan perubahan baik melalui pemeriksaan keabsahan pembuat tugas, maupun memberikan tugas yang membutuhkan jawaban berbeda dalam penyelesaiannya. Karena evaluasi tidak berjalan sebagaimana seharusnya, maka mahasiswa yang sebenarnya tidak paham, akan luput dari perhatian karena tugas yang dibebankan kepada mahasiswa seakan-akan dapat dikerjakan dengan baik.
- 3. Perilaku Dosen Mengontrol Pelaksanaan Materi praktikum
Sebahagian besar dosen terlihat belum memonitor apa yang dikerjakan mahasiswa pada saat melaksanakan materi praktikum. Suryosubroto (1983:23) menganjurkan agar dosen, mengadakan pemantauan keliling, untuk memastikan seberapa jauh mahasiswa memahami petunjuk, seberapa jauh mereka mampu mengerjakan tugas, kesulitan lain yang dihadapi mahasiswa, di samping itu pemantauan keliling ini terlihat dibutuhkan, karena karakteristik instalasi labor komputer AAM Riau saat ini belum menggunakan software yang memungkinkan dosen dapat mengontrol pelaksanaan praktikum dari tempat duduk dosen. Pemantauan mahasiswa oleh dosen pada masing-masing komputer terlihat sangat perlu dilakukan, mengingat banyaknya temuan-temuan yang memperlihatkan bahwa mahasiswa mengerjakan materi lain di luar materi praktikum.
Dosen yang kurang dapat merancang materi praktikum sesuai dengan waktu yang tersedia, mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam melaksanakan praktikum. Karena kelebihan waktu praktikum, mahasiswa memiliki alasan untuk mengerjakan materi lain di luar materi praktikum, sehingga terlihat bahwa mahasiswa menggunakan waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaan lain.
IV. KESIMPULAN, DAN REKOMENDASI
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Perilaku mahasiswa, seperti: bertanya, mengopi pekerjaan teman, mengerjakan pekerjaan lain di luar mata kuliah praktikum banyak ditemukan dengan berbagai alasan penyebabnya;
- Perilaku mahasiswa dalam proses pembelajaran berbantuan komputer, berkaitan dengan perilaku dosen dalam mengelola pembelajaran;
- Belum semua Dosen memfasilitasi agar mahasiswa aktif bertanya, mengerjakan sendiri tugas yang diberikan dosen, dan melaksanakan praktikum dengan serius sesuai dengan materi yang mestinya dibahas pada saat itu.
4.2. Rekomendasi
Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka peneliti merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :
- Perilaku Mahasiswa yang tidak bertanya jika mengalami kesulitan, mengopi saja hasil yang dibuat teman, dan mengerjakan pekerjaan lain di luar materi praktikum banyak ditemukan dan hal ini tentu saja bukan sebuah hal yang menggembirakan. Seharusnya mahasiswa juga memahami bahwa pembelajaran bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kompetensi yang memungkinkan para mereka mampu hidup fungsional di masa kini dan di masa depan, dengan membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai (kompetensi).
- Dosen diharapkan agar dapat menyelenggarakan pembelajaran dengan lebih baik. Dosen perlu mengkondisikan suasana pembelajaran yang kondusif. Kehangatan dan keantusiasan yang ditunjukkan melalui sikap, dan cara dosen termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, serta posisi badan, akan mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
- Penelitian ini mengungkapkan sebagian perilaku mahasiswa dalam pembelajaran berbantuan komputer, dan mengkaitkannya dengan perilaku dosen dalam mengelola pembelajaran. Masih banyak perilaku lainnya yang perlu mendapat perhatian untuk diungkapkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan proses pembelajaran. Temuan-temuan yang terungkap dari penelitian ini walaupun tidak dapat digeneralisasi, namun dapat dijadikan acuan pada konteks sosial yang hampir sama.
DAFTAR RUJUKAN
Anderson, H. Ronald. 1994. Selecting and Developing Media for Instruction. Alih bahasa: Yusufhadi Miarso. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Ansyar, Mohammad. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta : Depdikbud, Dijen Dikti, PPLPTK.
Cotton, Kathleen. 1991. Computer Assisted Instruction. School Improvement Research Series (SIRS), Research You Can Use. http://www.nwrel.org/scpd/sirs/5/cu10.html
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta : Depdiknas dan Balai Pustaka.
Fred & Henry. 1983. Teknologi Pendidikan. Alih bahasa Sudjarwo. Jakarta: Erlangga
Gagne Robert M. 1985. The Conditions of Learning. Terjemahan Munandir. New York : Holt, Rinehart & Winston.
Gredler, Margaret E.Bell. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Terjemahan Munandir. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Hanafin, Michael J, and Kyle L.Peck, 1988. The Design, Development And Evaluation Of Instructional Software. New York : Macmillan Publishing Company
Martin, Garry and Joseph Pear. 1992. Behavior Modification: What It Is and How to Do It. New Jersey USA: Prentice-Hall, Inc.
Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih-Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Rosdakarya
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Suryosubroto, B. 1983. Sistem Pengajaran Dengan Modul. Yogyakarta : Bina Aksara
*Dimuat dalam Jurnal Ilmiah Ekotrans, Vol. 14, No. 2, Juli 2014, ISSN 1411-4615